Oleh SYAFAAT R SELAMET
Sunan Gunung Djati-Bandung dikenal sebagai kota perjuangan. Banyak peristiwa penting dalam rangka perjuangan menuju kemerdekaan terjadi di kota Bandung Bung Karno selepas mondok di rumah Cokroaminoto di Surabaya meneruskan pendidikan di kota Bandung.
Sejak saat itu aktivitas politiknya mulai menonjol dalam perjuangan dengan mendirikan Partai Nasional Indonesia (1927). Beberapa waktu kemudian terjadilah peristiwa “Indonesia Menggugat”, sebuah pidato pembelaan Bung Karno terhadap pemerintah Belanda yang menahannya.
Selain Bung Karno, sejak tahun 1912 Soewardi Soerjaningrat, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo menggerakkan Indische Partey (IP) di kota Bandung. Tahun 1916 Kongres Central SI Pertama yang dipimpin Cokroaminoto yang menyerukan “Indonesia Berparlemen” (Indonesia Merdeka) juga dilaksanakan di alun-alun kota Bandung.
Bahkan awal abad ke-20 Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (1906) telah menjadikan Bandung sebagai tempat beradanya kantor Koran Medan Prijaji, koran pertama milik pribumi yang mengguncangkan pemerintah kolonial Belanda.
Jika ditelusuri secara alur kronologis dalam periode perjuangan di Indonesia khususnya di Jawa pada awal abad XX tidak akan lepas dari wacana pergerakan Sarekat Islam (SI). Bila ini yang menjadi ukuran titik tolaknya, maka Bandung disebut kota perjuangan mungkin ini memiliki hubungan dengan perjuangan SI yang pernah menjadikannya sebagai tempat Kongres Central SI I (1916). Bahkan bisa pula disebut kota perjuangan, karena ada ketertarikan dengan perjuangan Tirto Adhi Soerjo lewat dunia pers dengan menjadikan Koran Medan Prijaji sebagai media penggugah kesadaran melawan penindasan kolonial.
Yang menarik dicermati adalah munculnya AbdoelMoeis menjadi nama trayek angkutan kota dalam kota Bandung. Ada jurusan Abdoel Moeis-Elang, Abdoel Moeis-Cicaheum, Abdul Moeis-Ledeng, Abdoel Moeis-Dago, dan lain sebagainya. Angkutan kota tersebut menunjukkan bahwa Abdoel Moeis itu identik dengan lokasi terminal Kebon Kalapa.
Nama Kebon Kalapa sendiri menunjukkan bahwa dulunya lokasi yang jadi terminal pusat kota Bandung ini awalnya daerah berupa kebun yang bnayak ditumbuhi pohon kelapa. Wajar, sebab sebelum abad XX kota Bandung awalnya perkampungan yang masih rimbun dengan pepohonan dan sungai-sungai yang mengalir di sekelilingnya. Sehingga sampai kini nama-nama lokasi yang identik dengan pepohonan dan sungai banyak ditemukan di kota Bandung, misalnya: Kebon Kalapa, Kebon Jayanti, Kebon Waru, Kebon Kangkung, Pasir Kaliki, Pasir alam, Pasir Cabe, Cilaki, Cikapayang, Cikapundung, dan lain-lain.
Lokasi sekitar terminal pusat kota Bandung kemudian disebut terminal Abdoel Moeis untuk menggantikan nama terminal Kebon Kalapa. Ini menunjukan keterkaitan dengan latar belakang historis, khususnya di masa perjuangan pada awal abad XX. Bila dilacak sejarah kota Bandung, memang di sekitar Kebon Kalapa itu sempat menjadi tempat diam tokoh perjuangan Abdoel Moeis. Selain itu di sekitar Kebon Kalapa ini terdapat rumah Inggit Garnasih, isteri kedua Bung Karno. Sehingga di sekitar Kebon Kalapa pun terdapat nama jalan Inggit Garnasih, yang kadang disebut jalan Pungkur.
Abdoel Moeis adalah nama salah seorang pejuang nasional lahir di Padang, Sumatera Barat pada 3 Juli 1883. Tepatnya di Sungai Puar, Bukittinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya pada sekolah Belanda tingkat persiapan Sekolah Stovia di Bukittinggi, Abdoel Moeis kemudian menuju Bandung dan tinggal lama di kota ini. Dan atas bantuan Mr. Abendanon dapat bekerja di Departemen Pengajaran dan Keagamaan antara tahun 1903-1905. Kemudian ditempatkan di Bank Rakyat. Kemudian keluar karena melihat kasus pungutan liar yang dilakukan lurah dan kaum priyayi rendahan terhadap orang-orang desa (Deliar Noer, 1995:122-123). Abdoel Moeis mengawali aktivitas dalam dunia pers dengan memasuki Koran berbahasa Belanda, Preanger Bode. Waktu itu Abdoel Moeis berkedudukan sebagai korektor naskah-naskah yang masuk (Soebagidjo IN, 1981; Deliar Noer, 1995).
Kemudian bersama Soewardi Soerjaningrat dan A.Widnjadisastra mendirikan Koran Hindia Sarekat, 50% penghasilan dari Koran itu dimasukan untuk kas Sarekat Islam, karena mereka termasuk pimpinan Sarekat Islam (SI) lokal Bandung yang berdiri sejak tahun 1912. Selain itu Abdoel Moeis pun mengelola Koran Kaoem Moeda yang juga menjadi corong perjuangan SI juga terbit di Bandung. Merupakan Koran pertama yang mengenalkan rubrik “Pojok” sejak tahun 1913-an.
Abdoel Moeis pun kemudian terlibat dalam Komite Boemi Poetra bersama Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, Soewardi Soeryaningrat dalam menentang Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Belanda dari penjajahan Spanyol. Karena merayakan kemerdekaan di tanah yang dijajahnya. Ketika pecah Perang Dunia I (1914-1918), tepat tahun 1915 Abdoel Moeis sudah menjadi salah satu pimpinan Central Sarekat Islam sebagai Commisaries (APE Korver, 1985: 220).
Abdoel Moeis pada masa ini seperti juga rekannya, Cokroaminoto setuju dengan terbentuknya Indie Werbare (Pertahanan Hindia). Pendapatnya ini bersebrangan dengan kubu SI lokal Semarang (Semaun dkk) yang menolak keras Indie Werbare. Abdoel Moeis bersama Cokroaminoto masuk dalam Volksraad (semacam DPR di era kolonial) (Soebagidjo IN, 1981: 152-154).
Dari tahun 1913-1923 Abdoel Moeis aktif dalam pergerakan Sarekat Islam. Khususnya menjadi pengurus Sarekat Islam lokal Bandung, selain kemudian terpilih menjadi pimpinan Central Sarekat Islam. Hampir bersamaan dengan itu Abdoel Moeis pun berjuang lewat kekuatan pena dengan aktif menjadi pengurus dan pengelola Koran Kaoem Moeda yang terbit di Bandung. Sebuah Koran yang waktu itu menjadi corong perjuangan Sarekat Islam. Abdoel Moeis sempat duduk sebagai Pimpinan Redaksi Koran Kaoem Moeda tersebut.
Kota Bandung telah menjadi tempat beraktivitas Abdoel Moeis dalam perjuangan lewat organisasi Sarekat Islam dan lewat corong media cetak diantaranya Koran Kaoem Moeda. Bandung bahkan menjadi tempat akhir hidupnya Abdoel Moeis yang wafat tahun 1959. Perjuangannya diakui pemerintah sehingga dikukuhkan menjadi pahlawan nasional (Soebagidjo IN, 1981: 157). Namun sayangnya, nama Abdoel Moeis sepertinya kurang dikenal luas sebagai pahlawan. Kalaupun dikenal publik, Abdoel Moeis lebih dikenal sebagai pengarang. Mungkin karena dia popular dengan bukunya “Untung Surapati” dan terutama “Salah Asuhan”. Padahal bila diteliti buku karangannya pun berisi semangat perjuangan.
Dari uraian di atas diperoleh gambaran bahwa Abdoel Moeis mempunyai peranan dalam perjuangan nasional, yaitu dalam pergerakan SI. Terutama aktivitas perjuangannya lewat dunia pers yang sangat penting dalam pengelolaan Koran Kaoem Moeda. Selain aktivitasnya dalam dunia pers dengan mengelola Hindia Sarekat, Bandera Islam, Oetoesan Melajoe. Meskipun demikian aktivitas dan peran perjuangannya belumbanyak diungkap dan diketahui masyarakat.
[...] Abdoel Moeis dan Press Pribumi, Syafaat R Slamet [...]
boleh tau referensi tulisan ini dari mana saja? klo buku, buku apa saja, klo web, apa alamatnya? terimakasih
pasti…tunggu saja ya karyanya…
Alhamdulillah, akhirnya kaluar juga karya Kang Faat yach. Semoga karya-karya lainnya mengikuti.