Catatan Pesta Blogger 2009

Published on November 7, 2009 by   ·   0 Komentar

Oleh ANTYO RENTJOKO

pestabloggercomSunan Gunung Djati-Di kalangan narablog (blogger) tertentu, ada istilah “pemain lama”. Istilah ini tak merujuk ke prestasi, apalagi reputasi, cuma menunjukkan bahwa si narablog sudah lama ngeblog, lebih dari lima tahun.

Saya sebagai setengah pemain lama untuk pertama kalinya datang ke Pesta Blogger 2009, di Jakarta, 24 Oktober lalu, di tengah 1.400-an peserta.

Kenapa pesta? Hanya nama. Sebetulnya sama dengan fest dan fiesta. Tapi kalau pakai festival, kadang diidentikkan dengan kejuaraan, yang harus ada pemenang. Kalau niatnya memang kumpul, atau kopdar akbar, kenapa juga pakai nama yang berat semisal seminar nasional atau muktamar nasional. Arsip e-mail para penggagas mungkin masih menyimpan usulan nama untuk bahan rapat PB 2007–PB yang pertama.

Apa boleh buat, kata pesta kadang diartikan sebagai pesta-pora. Padahal tidak. Tanpa nama pesta pun, acara lain yang mengumpulkan orang toh punya unsur menghibur dan ha-ha-hi-hi atas nama silaturahim. Padahal PB 2009, ini seperti dua PB sebelumnya, juga digelar beberapa diskusi serentak di ruang terpisah.
Solilokui

PB 2009 sangat menarik justru karena dalam dua tahun ini perkembangan media sosial sudah berubah cepat. Jejaring sosial Facebook sudah mewabah, beranggotakan 10,74 juta orang Indonesia (peringkat ketujuh dari sepuluh besar, dengan pertumbuhan pengguna xx persen). Adapun Twitter, meski bukan layanan baru, pada 2009 ini mengalami pertambahan anggota untuk wilayah Indonesia, sehingga terakhir anggotanya sekitar 1,5 juta orang. Diduga, penambahan ini berkaitan dengan penyebaran kampanye Indonesia Unite pascapengeboman Marriott dan Ritz-Carlton.

Facebook memang fenomenal. Inilah layanan Internet yang bisa menggiring mayoritas anggota membuka diri, dengan menyebutkan nama, kelahiran, domisili, dan menampilkan foto. Di forum dan milis, banyak orang bisa menjadi alias, untuk bergaul-maul secara maya dengan para penyandang alias yang lain. Di Facebook, untuk berjumpa kembali dengan kawan semasa TK, Anda tak mungkin menggunakan alias, kan? Kecuali alias yang Anda pakai memang menjadi nama baru yang diterima oleh semua orang yang tahu identitas Anda.

Facebook tak hanya membantu orang berteman dan membagikan pengalaman pribadi, sambil mengajak bernostalgia dengan foto-foto lama. Facebook juga memberi setiap anggota kesempatan untuk membagikan isi perasaan maupun pikiran dalam teks yang panjang dalam Notes. Lebih besar kemungkinan Notes dibaca dan dikomentari orang lain ketimbang menulis di blog sendiri. Di Facebook juga lebih besar kemungkinan penyebaran tulisan seseorang oleh orang lain, bahkan menyeberang ke kelompok kecil pertemanannya.

Adapun Twitter, sebagai mikroblog dengan kuota sepanjang SMS (140 karakter), mempermudah setiap orang untuk membagikan pengalamannya dan membagikan content yang ditemuinya–termasuk postingnya sendiri di blog. Hampir dipastikan ada respons (komentar) bahkan reaksi (yang disebarkan, re-tweet). Jejaring sosial dan media sosial itulah yang mempertegas kebutuhan orang akan konversasi. Kadang content hanya sampiran. Yang lebih penting adalah say hello dan ha-ha-hi-hi. Maka wajar jika sebagian narablog mengeluh blognya sepi. Sudah berkurang konversasi di blog, yang ada hanya solilokui.

Dengan latar seperti itulah PB 2009 digelar. Narablog datang, tapi sebagian kecil mungkin sudah tidak ngeblog lagi karena lebih aktif di Facebook dan Tweeter. Bagi saya, itu bukan masalah. Sebab, dari jejaring dan media sosial tetap ada content menarik yang melebihi “gw lg ngantuk”–kecuali kita tahu latar masalahnya kenapa (misalnya) sampai seminggu dia kurang tidur. Dari jejaring dan media sosial, kita menyaksikan mobilisasi dukungan terhadap Prita Mulyasari dan terhadap upaya pemberantasan korupsi. Tak mungkin itu digelombangkan kalau hanya oleh sejumlah penulis solilokui.

Mengecoh

Di tengah belantara teks, yang antara lain disumbangkan oleh mesin blog, muncullah halaman-halaman web yang memainkan SEO (search engine optimization). SEO-nya sendiri bagus. Sebab, itulah sumbangan teknologi agar pengguna Internet semakin mudah menemukan informasi yang spesifik. Tetapi yang terjadi sekarang adalah kesalahkaprahan, terutama bagi orang yang belum ngeblog. “Denger-denger, ngeblog bisa menghasilkan banyak duit, ya?” begitulah pertanyaan yang kerap saya terima.

Tentu bisa saja ngeblog mendatangkan uang, baik langsung maupun tak langsung. Yang langsung misalnya berupa iklan (Adsense dan sejenisnya), yang nilai perolehannya bergantung pada trafik di blog itu. Unsur utamanya adalah content. Kalau menarik, ya, didatangi orang. Adapun yang tak langsung, misalnya karena blognya bagus, dan si narablog itu populer, maka dia diminta menjadi kolumnis, pembicara seminar, bahkan mendapat endorsement dari sponsor untuk kegiatannya (misalnya laptop dan akses Internet).

Untuk blog dengan isi yang ditulis melalui perasan darah, keringat, dan air mata (halah–kata orang sekarang), SEO yang efektif akan sangat membantu ketenaran blognya, dan ujung-ujungnya adalah trafik. Selain SEO, tentu, ya aktif di Facebook dan Tweeter. Itu semua bagus.

Meskipun begitu, ada juga content bermesin blog yang isinya asal-asalan, bahkan cuma copy and paste, karena yang penting sangat ramah SEO. Ada “blog” yang berisi banyak kata kunci yang diulang-ulang sejak judul sampai paragraf terakhir. Buat apa? Supaya terendus Google dan lainnya, sehingga trafik halaman web itu naik, lantas setelah itu iklan yang dipasangnya mendatangkan uang.

Coba cari “mp3 indonesia”, “tiket pesawat murah”, dan “nama bayi” di Google. Ada saja halaman pengecoh yang tak bercerita apa-apa, tetapi tampilannya seperti blog, bahkan tanggalnya secara otomatis muncul sebagai edisi hari ini, dan banyak iklannya! Pemilik “blog” macam ini kian banyak, sehingga kita bertanya apa yang sedang mereka bikin untuk mewujudkan sebuah karung besar bernama “content Indonesia”. Tapi, lama-kelamaan, pengguna Internet bisa membedakan mana yang pengecoh dan mana yang bukan.

Penulis, blogger di sejumlah tempat, terpusat di antyo.rentjoko.net

Sumber, Harian Tempo, Selasa 03 November 2009

Tags:  , ,

Komentar Pembaca (0)




Pepatah

Kadang-kadang, kata yang paling sederhana adalah yang paling indah. Dan paling efektif. — (Robert Cormier)

Terkini