Sastra
Pamplet Cinta dari WS Rendera
Sunan Gunung Djati-Menginjak pertengahan bulan Agustus kita selalu teringat dengan hari bersejarah kemerdekaan Indonesia, tetapi dari sudut paling sunyi terdengar jerit histeris setelah jasad “si burung merak” dimakamkan 7 agustus 2009, Dalam usia yang menginjak 74. Rendra ia tak pernah pergi(kompas), meski sepi menjadi kaca.
Puisi-puisi Pradewi Tri Chatami
A Night After The Love That I Want To Make
malam ini aku tak mau mandi.
masih meruap peluhmu di pepori rambut
dan kulitku. di labirin telingaku tersesat
nafasmu, di mana aroma pasta gigi berusaha menggusur rokok kretek. tak kubiarkan
tanganku menggaruk apa pun, meski nyamuk mendarat di mana pun sesukanya
dan membuatku bentol
Sajak Restu Ashari Putra
menunggu kau membaca aku
ini pintu dadaku,
–pintu semesta aku
rahasia debur ombak
yang tak pernah bisa kau baca
aku menulismu dari cijagra
(seraya telapak tangan menggenggam nyawa
dan mata terpejam diam)
Bumi Manusia
Oleh SANDI IBRAHIM
Sunan Gunung Djati-Rasanya kurang puas jika tak membekas. Ingatan selalu luput dilaput ingatan yang lain. Begitu serius kubacai, cukup dalam kuhayati dan kuselami, namun tak banyak yang bisa kuendapkan lewat kesan yang bisa kutulis.
Mari,
Dan Kematian Pun Salah Alamat
Oleh TEDI TAUFIQ RAHMAN
Sunan Gunung Djati-Aku tahu mungkin cerita ini akan nampak janggal, tidak masuk akal. Irrasional. Kamu mungkin menganggapku sebagai seorang pembual atau bisa saja pengkhayal. Absurd, tidak jelas apa yang dimaksud.
Kendati demikian, ada suatu hal yang tidak bisa disangkal; bahwa segala apapun keyakinan kita terhadap segala sesuatu di dunia ini belum jua final.
Tafakur
Sajak BADRU TAMAM MIFKA
Sunan Gunung Djati-Di tanah yang akan punah ini usia kita tumbuh dan rubuh
Ia seperti daun-daun hari yang memutih disembelih matahari
Rumah bagi riwayat kita bangun di atas sepetak keluh kesah
Menabung mimpi yang sepi di tahun-tahun yang tenggelam
Membenahi rencana di lembaran-lembaran musim yang fana
Sebait Pengalaman
Oleh DELI LUTHFI RAHMAN
Sunan Gunung Djati-“Apa yang kau cari?”, adalah sebuah pertanyaan yang selalu menghantui kemana aku pergi dan dimana aku berada.
Sebuah pertanyaan yang selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sebuah pertanyaan yang dipenuhi sekelumit misteri bagi si penjawab.
Burung Pipit
Oleh ACUZ SASTERAJINGGA
-Jika kau hanya seekor Pipit, maka bunuhlah mimipimu untuk menjadi Elang, sampai kau memahami bahwa cukuplah menjadi dirimu kau bahagia…
***
Sunan Gunung Djati-Pagi, ketika moncong mentari seperti enggan untuk menampakan diri, sungguh aku jadi tak bergairah untuk berkicau apalagi menari-nari disekitar reranting pohon seperti yang telah sering kulakukan.
Perahu Yang Akan Segera Berangkat
Sunan Gunung Djati-Di Sini, berjuta orang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan.
Mereka akan bergegas berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia.
Sajak BAMBANG Q ANEES
Laut
Masih terasa getar dari bau tanah,
langit dan amis laut yang membuka diri
dan daratan yang diam tak disapa
Apa yang kau bebaskan, Hanoman?
7 September 2010 : Memahami Dasar Kekecewaan Rakyat
6 September 2010 : Asketisisme Dalam Politik Pemilukada Kab. Bandung
5 September 2010 : Dramaturgi Mudik Lebaran
5 September 2010 : Dramaturgi Mudik Lebaran
4 September 2010 : Terapi Maag dengan Puasa
3 September 2010 : Tarikh Awal Lungsurna Wahyu Ilahy
2 September 2010 : Sekadar Berbagi tentang Puasa
1 September 2010 : Tuduhan Barat terhadap Islam
31 Agustus 2010 : Tasawuf dan Hubungan Antaragama
30 Agustus 2010 : Ngabuburit Digital